• Beranda
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • SOP Perlindungan Wartawan
Bersama Ra’jat
No Result
View All Result
  • Berita
    • All
    • Daerah
    • Mancanegara
    • Nasional

    Ketua DPD PPWI Jambi Desak Gubernur Al Haris Berhenti Sembunyi: Bongkar Tabir Gelap Pengadaan Lahan Sekolah Rakyat Sekarang!

    Tonggak Sejarah 70 Tahun Hubungan Diplomatik: Jepang Dukung Kedaulatan Maroko atas Wilayah Sahara

    Fenomena Pemerasan WNA oleh Aparat Imigrasi dan Bea Cukai: Sebuah Pengkhianatan terhadap Kemanusiaan Bangsa Indonesia

    H. Bakri Bungkam! Proyek “Sekolah Rakyat” Rp446 Miliar Bermasalah, Di Mana Fungsi Pengawasan Putra Jambi di Senayan?

    KEBUN SAWIT DI KAWASAN HUTAN MUKOMUKO MASUK AGENDA RDP KOMISI IV DPR RI: BERSEMPIL DENGAN KASUS PELANGGARAN DI SULAWESI BARAT

    Edia Putra, ST Jangan “Main Mata”! Bersamarajat.id Desak Transparansi Dokumen Lingkungan Proyek Sekolah Rakyat

    BersamaRajat.id “Senggol” H. Bakri: Bongkar Skandal Sekolah Rakyat di Kota Jambi!

    Menabrak Paru-Paru Kota: Proyek Sekolah Rakyat Bagan Pete Terjerat Utang Rp3,14 M dan Administrasi Cacat Total!

    LAPORAN KHUSUS: Skandal “Sekolah Rakyat” Bagan Pete—Pendidikan yang Dibangun di Atas Luka Lingkungan dan Aturan yang Ditabrak!

    • Daerah
    • Mancanegara
    • Nasional
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sejarah
  • Berita
    • All
    • Daerah
    • Mancanegara
    • Nasional

    Ketua DPD PPWI Jambi Desak Gubernur Al Haris Berhenti Sembunyi: Bongkar Tabir Gelap Pengadaan Lahan Sekolah Rakyat Sekarang!

    Tonggak Sejarah 70 Tahun Hubungan Diplomatik: Jepang Dukung Kedaulatan Maroko atas Wilayah Sahara

    Fenomena Pemerasan WNA oleh Aparat Imigrasi dan Bea Cukai: Sebuah Pengkhianatan terhadap Kemanusiaan Bangsa Indonesia

    H. Bakri Bungkam! Proyek “Sekolah Rakyat” Rp446 Miliar Bermasalah, Di Mana Fungsi Pengawasan Putra Jambi di Senayan?

    KEBUN SAWIT DI KAWASAN HUTAN MUKOMUKO MASUK AGENDA RDP KOMISI IV DPR RI: BERSEMPIL DENGAN KASUS PELANGGARAN DI SULAWESI BARAT

    Edia Putra, ST Jangan “Main Mata”! Bersamarajat.id Desak Transparansi Dokumen Lingkungan Proyek Sekolah Rakyat

    BersamaRajat.id “Senggol” H. Bakri: Bongkar Skandal Sekolah Rakyat di Kota Jambi!

    Menabrak Paru-Paru Kota: Proyek Sekolah Rakyat Bagan Pete Terjerat Utang Rp3,14 M dan Administrasi Cacat Total!

    LAPORAN KHUSUS: Skandal “Sekolah Rakyat” Bagan Pete—Pendidikan yang Dibangun di Atas Luka Lingkungan dan Aturan yang Ditabrak!

    • Daerah
    • Mancanegara
    • Nasional
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sejarah
Bersama Ra’jat
No Result
View All Result
  • Berita
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sejarah

Home » “Sampai Ketemu Lagi”: Negara yang Selalu Menuntut Pengorbanan, Tapi Pelit Menghormatinya

“Sampai Ketemu Lagi”: Negara yang Selalu Menuntut Pengorbanan, Tapi Pelit Menghormatinya

Oleh: Abdul Mutalib, SH

by admin
16.01.2026
in Nasional, Opini, Politik, Sejarah
0

Sejarah bangsa ini dibangun di atas pengorbanan. Namun ironisnya, negara yang lahir dari pengorbanan justru kerap menjadi pihak paling rajin menagihnya—tanpa pernah sungguh-sungguh menghormati mereka yang berkorban.

 

Tulisan Suluh Indonesia Muda tahun 1928 menutup perpisahan dengan Tjipto Mangunkusumo dengan kalimat sederhana namun ideologis: “Sampai ketemu lagi!”. Bukan air mata, bukan ratapan, melainkan perlawanan. Sebuah pesan politik yang tegas: pengorbanan tidak pernah sia-sia, dan penindasan tidak akan abadi.

 

Nyaris seabad kemudian, pertanyaannya menjadi jauh lebih tidak nyaman:

Apakah republik ini sungguh telah berubah, atau hanya berganti wajah penindasnya?

 

Represi Berganti Baju, Bukan Menghilang

Jika dulu pembuangan dilakukan oleh pemerintah kolonial, hari ini represi tampil lebih rapi. Tidak selalu dalam bentuk penjara atau pengasingan, tetapi lewat kriminalisasi, pembungkaman administratif, tekanan ekonomi, dan pembusukan karakter.

Mereka yang kritis dilabeli provokator. Mereka yang membongkar penyimpangan disebut pengganggu stabilitas. Mereka yang menolak tunduk dipinggirkan secara sistematis. Negara tidak lagi perlu borgol—cukup regulasi, aparat, dan opini yang diarahkan.

 

Inilah wajah kekuasaan modern: otoriter yang dibungkus prosedur demokrasi.

 

Pengorbanan yang Selalu Ditagih dari Bawah

Negara kerap berbicara tentang stabilitas, persatuan, dan kepentingan nasional. Namun siapa yang selalu diminta berkorban? Rakyat kecil. Aktivis. Jurnalis. Akademisi kritis. Aparatur jujur yang menolak ikut arus.

 

Sementara itu, elite politik dan ekonomi menikmati perlindungan berlapis. Kesalahan mereka dinegosiasikan, diputihkan, atau dilupakan. Hukum menjadi lentur ke atas dan keras ke bawah.

 

Inilah ironi yang sejak lama diperingatkan oleh generasi Suluh Indonesia Muda: jika pengorbanan hanya dituntut dari segelintir orang, maka perjuangan sedang dikhianati.

 

Demokrasi Tanpa Keberanian

Kita hidup di era kebebasan formal, tetapi keberanian justru semakin langka. Banyak yang tahu ada yang salah, tetapi memilih diam. Banyak yang paham ketidakadilan, tetapi takut kehilangan posisi. Banyak yang mengaku nasionalis, tetapi alergi pada risiko.

 

Demokrasi tanpa keberanian hanyalah dekorasi. Ia tampak indah di permukaan, tetapi kosong di dalam. Negara tetap berjalan, tetapi kehilangan jiwa.

 

Padahal sejarah mengajarkan satu hal sederhana: bangsa ini tidak pernah lahir dari sikap aman.

“No Sacrifice is Wasted”—Asal Tidak Dikhianati

Tulisan 1928 itu menegaskan: tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Namun pernyataan ini mengandung syarat keras—pengorbanan tidak boleh dikhianati oleh mereka yang menikmati hasilnya.

 

Hari ini, pengkhianatan itu terasa nyata. Mereka yang berjuang disingkirkan, sementara yang berkompromi naik pangkat. Mereka yang jujur dicurigai, sementara yang lihai bermain kuasa dirangkul.

 

Jika ini terus dibiarkan, maka pengorbanan berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan, bukan fondasi keadilan.

 

“Sampai Ketemu Lagi” sebagai Ancaman Moral

Kalimat “Sampai ketemu lagi” bukan nostalgia. Ia adalah peringatan. Bahwa sejarah selalu mencatat. Bahwa kekuasaan yang berdiri di atas pembungkaman tidak akan abadi. Bahwa suara yang hari ini ditekan akan menemukan jalannya kembali.

 

Pertanyaannya bukan apakah kebenaran akan menang, melainkan:

di sisi mana kita berdiri saat ia datang?

 

Karena sejarah tidak hanya mengadili para penindas, tetapi juga mereka yang memilih diam ketika penindasan berlangsung.

 

Dan ketika kelak kita dipanggil untuk bertemu kembali oleh sejarah, semoga kita tidak hanya bisa berkata: kami tahu, tetapi berani berkata: kami melawan.

Sampai ketemu lagi.

Tags: Fikiran ra'jatSampai ketemu lagiSejarah bangsaSuluh Indonesia Muda 1928Tjipto Mangunkusumo
ShareTweetSendScan

Artikel lainnya

Daerah

Ketua DPD PPWI Jambi Desak Gubernur Al Haris Berhenti Sembunyi: Bongkar Tabir Gelap Pengadaan Lahan Sekolah Rakyat Sekarang!

10.05.2026
Berita

Tonggak Sejarah 70 Tahun Hubungan Diplomatik: Jepang Dukung Kedaulatan Maroko atas Wilayah Sahara

10.05.2026
Hukrim

H. Bakri Bungkam! Proyek “Sekolah Rakyat” Rp446 Miliar Bermasalah, Di Mana Fungsi Pengawasan Putra Jambi di Senayan?

09.05.2026
Berita

Kriminalisasi Pers di Majalengka: Skandal Perzinahan Kades, Dugaan Suap Penyidik, dan Matinya Supremasi UU

20.04.2026
Berita

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

20.04.2026
Berita

DIDUGA PT WKS PANEN KAYU DI ‘KUBAH GAMBUT LINDUNG’ MUARO JAMBI

20.04.2026
Next Post

Sampai Ketemu Lagi: Ketika Kekuasaan Daerah Berlindung di Balik Jaksa

Negara Dalam Tas Merah Marun: Ketika Aktivis Dibungkam, Hukum Telanjang di Hadapan Uang

Disorot Publik, Bangunan Ruko di Atas Drainase Talang Banjar Masih Berdiri, Pemkot Jambi Belum Sampaikan Penjelasan Resmi

Diduga Rangkap Jabatan dan Terlibat Konflik Kepentingan, Anggota DPRD Kota Jambi Disorot.

DLH Kota Jambi Akui Ada Bangunan di Atas Drainase Talang Banjar, Tindak Lanjut Kini di PUPR

Discussion about this post

Januari 2026
SSRKJSM
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
« Des   Feb »
  • Bang Cobra: Oknum ASN Pendukung Romantis Jangan Balas Dendam atas Kekalahan di PSU Gorontalo Utara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hamzah Sidik Soroti Aleg BK DPRD Gorontalo Utara yang Sebar Isu Mangkir 6 Bulan: “Kalau Tak Bisa Dibuktikan, Itu Hoaks”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Premanisme di Balik Meja Kepala Dinas Kesehatan Sarolangun: Jurnalis Metro7 Dianiaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korupsi Menggila di Disnakertrans Sarolangun: Ratusan Juta Raib, Bendahara Akui untuk “Kepentingan Pribadi”!  

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Guncang Sarolangun “Plt Kasubbag Umum” Gasak Gaji Sejumlah PNS dengan Dalih “Jasa Pengurusan'”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

  • Beranda
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • SOP Perlindungan Wartawan

No Result
View All Result
  • Berita
    • Daerah
    • Mancanegara
    • Nasional
  • Bisnis
  • Hiburan
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Politik
  • Ragam
  • Sejarah