Sejarah bangsa ini dibangun di atas pengorbanan. Namun ironisnya, negara yang lahir dari pengorbanan justru kerap menjadi pihak paling rajin menagihnya—tanpa pernah sungguh-sungguh menghormati mereka yang berkorban.
Tulisan Suluh Indonesia Muda tahun 1928 menutup perpisahan dengan Tjipto Mangunkusumo dengan kalimat sederhana namun ideologis: “Sampai ketemu lagi!”. Bukan air mata, bukan ratapan, melainkan perlawanan. Sebuah pesan politik yang tegas: pengorbanan tidak pernah sia-sia, dan penindasan tidak akan abadi.
Nyaris seabad kemudian, pertanyaannya menjadi jauh lebih tidak nyaman:
Apakah republik ini sungguh telah berubah, atau hanya berganti wajah penindasnya?
Represi Berganti Baju, Bukan Menghilang
Jika dulu pembuangan dilakukan oleh pemerintah kolonial, hari ini represi tampil lebih rapi. Tidak selalu dalam bentuk penjara atau pengasingan, tetapi lewat kriminalisasi, pembungkaman administratif, tekanan ekonomi, dan pembusukan karakter.
Mereka yang kritis dilabeli provokator. Mereka yang membongkar penyimpangan disebut pengganggu stabilitas. Mereka yang menolak tunduk dipinggirkan secara sistematis. Negara tidak lagi perlu borgol—cukup regulasi, aparat, dan opini yang diarahkan.
Inilah wajah kekuasaan modern: otoriter yang dibungkus prosedur demokrasi.
Pengorbanan yang Selalu Ditagih dari Bawah
Negara kerap berbicara tentang stabilitas, persatuan, dan kepentingan nasional. Namun siapa yang selalu diminta berkorban? Rakyat kecil. Aktivis. Jurnalis. Akademisi kritis. Aparatur jujur yang menolak ikut arus.
Sementara itu, elite politik dan ekonomi menikmati perlindungan berlapis. Kesalahan mereka dinegosiasikan, diputihkan, atau dilupakan. Hukum menjadi lentur ke atas dan keras ke bawah.
Inilah ironi yang sejak lama diperingatkan oleh generasi Suluh Indonesia Muda: jika pengorbanan hanya dituntut dari segelintir orang, maka perjuangan sedang dikhianati.
Demokrasi Tanpa Keberanian
Kita hidup di era kebebasan formal, tetapi keberanian justru semakin langka. Banyak yang tahu ada yang salah, tetapi memilih diam. Banyak yang paham ketidakadilan, tetapi takut kehilangan posisi. Banyak yang mengaku nasionalis, tetapi alergi pada risiko.
Demokrasi tanpa keberanian hanyalah dekorasi. Ia tampak indah di permukaan, tetapi kosong di dalam. Negara tetap berjalan, tetapi kehilangan jiwa.
Padahal sejarah mengajarkan satu hal sederhana: bangsa ini tidak pernah lahir dari sikap aman.
“No Sacrifice is Wasted”—Asal Tidak Dikhianati
Tulisan 1928 itu menegaskan: tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Namun pernyataan ini mengandung syarat keras—pengorbanan tidak boleh dikhianati oleh mereka yang menikmati hasilnya.
Hari ini, pengkhianatan itu terasa nyata. Mereka yang berjuang disingkirkan, sementara yang berkompromi naik pangkat. Mereka yang jujur dicurigai, sementara yang lihai bermain kuasa dirangkul.
Jika ini terus dibiarkan, maka pengorbanan berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan, bukan fondasi keadilan.
“Sampai Ketemu Lagi” sebagai Ancaman Moral
Kalimat “Sampai ketemu lagi” bukan nostalgia. Ia adalah peringatan. Bahwa sejarah selalu mencatat. Bahwa kekuasaan yang berdiri di atas pembungkaman tidak akan abadi. Bahwa suara yang hari ini ditekan akan menemukan jalannya kembali.
Pertanyaannya bukan apakah kebenaran akan menang, melainkan:
di sisi mana kita berdiri saat ia datang?
Karena sejarah tidak hanya mengadili para penindas, tetapi juga mereka yang memilih diam ketika penindasan berlangsung.
Dan ketika kelak kita dipanggil untuk bertemu kembali oleh sejarah, semoga kita tidak hanya bisa berkata: kami tahu, tetapi berani berkata: kami melawan.
Sampai ketemu lagi.























Discussion about this post