Fikira Ra’jat, Gorontalo utara — Suasana politik di Gorontalo Utara memanas pasca kemenangan telak Pasangan Bercahaya, Thariq Modanggu dan Nurjana Jusuf, dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) pada 19 April 2025. Namun, kemenangan ini rupanya tidak diterima dengan lapang dada oleh sebagian pihak, khususnya oknum ASN pendukung pasangan Romantis yang kalah dalam PSU tersebut.
Melalui aktivis vokal, Bang Cobra alias Miton, Tim Bercahaya mengungkap adanya dugaan intimidasi terhadap warga yang memilih pasangan nomor 02. Warga tersebut menjadi sasaran tekanan oleh seorang pejabat ASN eselon III berinisial BL, yang diketahui sebagai ASN aktif di lingkungan Pemda Gorontalo Utara.
ASN ini diduga mendatangi rumah-rumah warga, bersikap layaknya aparat penyidik, serta mencari-cari kesalahan untuk kemudian digunakan sebagai “bahan” gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), seolah ingin membalas kekalahan pasangan yang ia dukung.
“Saya menyayangkan, kenapa bukan tim sukses yang bergerak, malah ASN yang repot. Oknum BL, yang notabene Sekretaris Dinas, justru sibuk melakukan investigasi ke warga untuk mencari bukti guna dibawa ke MK. Ini sudah keterlaluan dan mencoreng marwah demokrasi,” ujar Bang Cobra.
Tak hanya itu, ASN tersebut juga diduga menggunakan jabatannya untuk melibatkan sejumlah kepala dinas, guru, kepala sekolah, hingga ASN lain, serta memanfaatkan fasilitas negara untuk menekan masyarakat dan memperlemah konsolidasi rakyat pendukung Bercahaya.
“Demokrasi harus dihormati. Kemenangan suara rakyat adalah kehendak Allah SWT, bukan malah diusik dengan intimidasi dan drama politik murahan,” tambah Bang Cobra dengan nada tegas.
Tim Bercahaya menegaskan bahwa seluruh bentuk intimidasi dan manipulasi yang terjadi tidak hanya dicatat di hadapan hukum dunia, tetapi juga di hadapan keadilan Ilahi.
“Torang berjalan dengan suara rakyat, bukan dengan sandiwara politik. Siapa yang zolim, Allah sendiri yang akan membuka semua aibnya,” pungkas Bang Cobra.
Lebih lanjut, Bang Cobra meminta Bawaslu dan pihak terkait untuk bertindak tegas terhadap ASN yang dianggap telah mencoreng prinsip netralitas birokrasi.
“Yang dilakukan BL ini adalah pembusukan demokrasi. ASN harusnya jadi contoh etika, bukan malah terlibat dalam praktik intimidasi politik,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, ASN berinisial BL belum memberikan klarifikasi atas dugaan tindakan intimidasi dan ketidaknetralan yang dilaporkan oleh Tim Bercahaya. (red)























Discussion about this post