Majnun;
“Wahai Harun, wahai yang tepituah, Kapan kamu berakal ?””
Harum;
“Saya yang gila atau kamu?”
Majnun;
“Sayalah yang berakal wahai Harun”
Harun;
“Bagaimana bentuk akalmu itu?”
Majnun ;
“Karena aku tau kerajaanmu akan Lenyap dan ini (akhirat) akan kekal maka aku tinggal disini (Sisi kubur).
Adapun kamu, tinggal di istanamu dan meninggalkan kuburmu dan kamu benci memindahkan bangunanmu kepada Liang Kerbur, menunjukkan kamu tau bahwa itu semua tidak memiliki kedudukan di susimu (katika di kubur)
Aku mendatangi kuburan dan aku panggil manakah orang yang membanggakan diri dan sombong.
Kemanakah orang yang adil itu dengan kekuasaannya dan Kemanakah orang yang pandai dengan Kesombongannya?
Dengan ini kamu memanggilku gila wahai Harun?”
Harun;
“Demi Allah engkau benar tambahlah nasikatmu.”
Majnun;
“Cukuplah bagimu AL-Qur’an disana terdapat kabar dan pelajaran”
Harun;
“Apakah kamu punya hayat yang bisa aku penuhi untuk mu?”
Majnun;
“Ya, tiga hayat, jika bisa kau penuhi Aku akan berterima kasih padamu.”
Harun; “Mintalah jika demikian.”
Majnun;
“Engkau tambahkan umurku
“Engkau selamatkan aku dari malaikat maut
“Engkau masukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka”
Harun; “Aku tidak bisa, aku tidak sanggup dan juga aku tidak kuat.”
Majnun; “Jika demikian kamu hanyalah hamba sikaya bukan seorang raja, dan aku tidak punya hayat pada hamba sikaya.” [Ruba ina]
Apakah cerita ini menari? Ya, cerita ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.
Cerita ini menggambarkan bagaimana seorang majnun (orang yang dianggap gila) memberikan nasihat yang bijak dan mendalam kepada seorang khalifah yang berkuasa.
Pesan moral yang dapat diambil dari cerita ini antara lain:
1. Kehidupan dunia tidaklah kekal: Majnun menyadari bahwa kehidupan dunia tidaklah kekal dan bahwa akhiratlah yang kekal. Oleh karena itu, dia lebih memikirkan tentang kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.
2. Kesombongan dan kebanggaan diri ; Majnun mengkritik kesombongan dan kebanggaan diri yang dimiliki oleh khalifah dan orang-orang yang berkuasa.
3. Keterbatasan kekuasaan ; Khalifah menyadari bahwa dia tidak memiliki kekuasaan untuk memenuhi permintaan majnun, seperti menambah umur, menyelamatkan dari malaikat maut, dan memasukkan ke dalam surga.
4. Prioritas kehidupan ; Cerita ini mengajarkan kita untuk memprioritaskan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.
Cerita ini juga menunjukkan bahwa kebijaksanaan dan kesadaran tidak selalu terkait dengan status sosial atau kekuasaan. Seseorang yang dianggap gila dapat memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan dan akhirat daripada seseorang yang berkuasa.
Kita dapat mengambil pelajaran dari cerita ini untuk lebih memikirkan tentang kehidupan akhirat, meningkatkan kesadaran akan keterbatasan kekuasaan, dan memprioritaskan hal-hal yang lebih penting dalam kehidupan.
Penulis ; tholip
Nara sumber ; Kanda fuji suka bumi estate
Redaksi ; fikiranrajat.id























Discussion about this post