SAROLANGUN – Setelah mencuatnya dugaan penguasaan jalur distribusi alat berat menuju wilayah PETI Batang Asai, informasi baru dari lapangan kembali menguatkan adanya rantai logistik yang menopang aktivitas tambang ilegal di kawasan tersebut.
Sumber di lapangan menyebutkan bahwa excavator yang akan digunakan untuk aktivitas tambang emas tanpa izin (PETI) tidak dapat masuk begitu saja ke wilayah Batang Asai.
Kondisi medan yang sulit serta jalur transportasi yang berat membuat tidak semua kendaraan mampu mengangkut alat berat menuju lokasi tambang.
Karena itu, pengangkutan excavator menuju kawasan tersebut disebut hanya dapat dilakukan oleh kendaraan tertentu yang memiliki spesifikasi khusus, terutama kendaraan jenis trado pengangkut alat berat dengan sistem doble gardan.
“Tidak semua mobil bisa masuk ke sana. Jalurnya berat, jadi hanya kendaraan tertentu yang bisa mengangkut alat berat,” ujar salah satu sumber yang mengetahui aktivitas pengangkutan alat berat menuju Batang Asai.
Selain persoalan medan, biaya pengangkutan alat berat menuju kawasan tambang juga disebut sangat tinggi.
Dalam satu kali pengantaran excavator menuju Batang Asai, biaya yang dipatok disebut mencapai sekitar Rp22 juta hingga Rp25 juta per unit alat.
Besarnya biaya tersebut memunculkan dugaan bahwa distribusi alat berat menuju kawasan tambang bukan sekadar aktivitas transportasi biasa, tetapi berpotensi menjadi bagian dari rantai ekonomi yang menopang aktivitas PETI di wilayah tersebut.
Sejumlah pihak menilai bahwa keberadaan jalur logistik alat berat merupakan faktor penting dalam keberlangsungan operasi tambang ilegal.
Tanpa alat berat, aktivitas PETI skala besar hampir tidak mungkin dilakukan.
Karena itu, muncul pandangan bahwa memutus jalur masuk alat berat menuju kawasan tambang dapat menjadi salah satu langkah efektif dalam menghentikan aktivitas PETI.
Salah satu jalur yang disebut menjadi akses menuju kawasan tambang adalah Simpang Pelawan menuju Batang Asai hingga pintu dua Desa Lubuk Resam.
Jika jalur tersebut diawasi secara ketat dari lalu lintas kendaraan pengangkut alat berat, maka peluang masuknya excavator menuju kawasan PETI dapat diminimalkan.
Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih terus melakukan penelusuran terkait jalur distribusi alat berat serta pihak-pihak yang diduga terlibat dalam rantai logistik aktivitas PETI di wilayah Batang Asai.
Investigasi ini akan terus berlanjut.
(Bersambung ke Episode 3: Dugaan Skema “Sekaki” dalam Operasi PETI Batang Asai)























Discussion about this post