Fikiran Ra’jat Gorontalo,- Langit Gorontalo Utara pada 19 April 2025 menyimpan kisah yang lebih dalam dari sekadar Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada. Ia menjadi saksi pertempuran simbolik antara dua pesawat politik: BERCAHAYA 02, pesawat kuning penuh optimisme; dan ROMANTIS 01, pesawat pink yang tampil damai, namun nyatanya menyimpan bara.
Awalnya publik terbius oleh nama: ROMANTIS. Ada harapan bahwa pasangan Roni – Ramdan membawa angin segar politik sejuk, penuh kasih rakyat. Tapi realitas berbicara lain. Selama perjalanan menuju PSU, strategi ROMANTIS justru bergeser dari kampanye gagasan menjadi kampanye kecurigaan.
Alih-alih memperkuat pesannya sendiri, ROMANTIS sibuk mencari celah dan kesalahan di tubuh lawannya, BERCAHAYA. Mereka bukan lagi memperjuangkan cita, tapi mengejar celah. Serangan demi serangan dialamatkan bukan kepada sistem yang harus dibenahi, tapi pada lawan yang ingin dijatuhkan.
Di situlah kejatuhan dimulai.
Sementara itu, pesawat BERCAHAYA 02, dengan kendali Thariq – Nur, tetap melaju stabil. Mereka tidak sepenuhnya sempurna, tapi tampil konsisten dengan semangat terang: membawa harapan, memperbaiki kelemahan, dan menyapa rakyat di darat—bukan sekadar bermanuver di langit media.
Ledakan pesawat ROMANTIS 01 akhirnya tak bisa dihindari. Tapi bukan karena ditembak, melainkan karena beban ambisi sendiri yang menghancurkannya. Meledak karena gagal menahan tekanan internal, gagal menjaga arah, dan gagal menjalankan makna dari nama mereka sendiri: romantis.
Ironisnya, yang mengusung cinta malah menebar curiga.
Yang menjanjikan damai, justru memanaskan konflik.
Sementara itu, BERCAHAYA terus terbang, menyapa langit dan darat, dan mendarat mulus di landasan mandat rakyat. Mereka tak luput dari kritik, tapi di panggung ini, mereka tak melupakan peran: membawa cahaya, bukan sekadar sorot lampu kemenangan.
Demokrasi adalah soal pilihan, tapi lebih dari itu, soal sikap.
Dan dalam panggung PSU Gorontalo Utara, rakyat tidak hanya memilih siapa yang kuat bicara, tapi siapa yang setia pada wataknya.
Romantis tak lagi romantis. Bercahaya tetap bercahaya. Dan sejarah pun mencatat bukan hanya siapa yang menang, tapi siapa yang jujur dengan janjinya.























Discussion about this post