Skandal memuakkan yang menyeret oknum Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan UIN Jambi telah mencoreng arang di kening seluruh masyarakat Bumi Pasir Pengaraian. Namun, hingga detik ini, Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi dan barisan tokoh agama seolah kehilangan taringnya. Apakah hukum adat hanya berlaku untuk rakyat kecil yang melanggar pantangan, sementara pejabat kampus dibiarkan melenggang tanpa sanksi sosial?
Penodaan Terhadap “Adat Bersendi Syarak”
Jambi bukan sekadar wilayah administratif, melainkan tanah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan kehormatan adat. Tindakan asusila oleh seorang “intelektual” di institusi “Islam” adalah bentuk penghinaan tertinggi terhadap marwah Jambi.
Bersamarajat.id secara keras mempertanyakan:
- Mana Sanksi Adat? Mengapa LAM Jambi belum mengeluarkan pernyataan sikap atau menuntut proses “Cuci Kampung” jika benar terjadi pelanggaran asusila yang meresahkan warga?
- Mana Suara Ulama? Tokoh agama di Jambi seharusnya menjadi garda terdepan dalam mengecam dekadensi moral, apalagi pelaku berada di lingkungan universitas Islam. Apakah solidaritas sesama “petinggi” lebih penting daripada tegaknya akhlak?
Jangan Biarkan Jambi Menanggung Aib!
Diamnya tokoh-tokoh berpengaruh di Jambi hanya akan memberi sinyal bahwa perilaku bejat bisa dimaafkan selama pelaku memiliki jabatan. Kita menuntut LAM Jambi untuk segera memanggil pihak kampus dan menuntut pertanggungjawaban moral secara adat. Jangan sampai sebutan “Tanah Pilih Pesako Betuah” hanya menjadi slogan tanpa makna karena para penjaganya memilih bungkam.
Desakan Kepada Menteri PPPA dan Komnas PA: Jangan Terkecoh!
Kami mengingatkan kembali kepada Menteri PPPA dan Komnas PA, bahwa tekanan di daerah mungkin sedang coba diredam oleh kekuatan tertentu. Oleh karena itu, campur tangan pemerintah pusat adalah harga mati. Jangan biarkan kasus ini menguap hanya karena pelaku memiliki jaringan di daerah atau di kalangan elit agama.
Bagaimana nasib anak bangsa jika para pengajarnya sudah kehilangan urat malu, dan para pemuka agamanya kehilangan keberanian untuk bersuara?
“Kemenyan sebesar lutut jika tidak dibakar tidak akan berbau.” Wahai Lembaga Adat dan Tokoh Agama, bakarlah keberanian kalian sekarang, atau biarkan sejarah mencatat kalian sebagai pihak yang membiarkan kerusakan moral merajalela di tanah Jambi!
Redaksi Bersamarajat.id Menagih Marwah, Menuntut Keadilan.























Discussion about this post