SENGETI, FIKIRANRAJAT.ID – Klarifikasi yang disampaikan PT Hutama Karya (HK) terkait kerusakan flyover Muaro Sebapo justru memunculkan tanda tanya baru di tengah publik.
Dalam penjelasannya, pihak HK menyebut bahwa retakan dan penurunan struktur pada flyover tersebut disebabkan oleh air hujan yang masuk ke dalam lapisan konstruksi melalui celah sambungan, sehingga membentuk rongga di bawah permukaan aspal.
Namun, alasan tersebut dinilai belum menjawab persoalan secara menyeluruh.
Pasalnya, proyek infrastruktur—terlebih yang masuk dalam kategori strategis nasional—seharusnya telah dirancang dengan mempertimbangkan berbagai faktor alam, termasuk curah hujan tinggi yang menjadi karakteristik wilayah Indonesia.
Jika hanya karena hujan sebuah struktur sudah mengalami retak hingga amblas, maka publik patut mempertanyakan kualitas perencanaan, material, serta pelaksanaan konstruksi proyek tersebut.
Lebih jauh, dalam klarifikasi yang disampaikan, pihak Hutama Karya tidak menyinggung sama sekali mengenai sumber material yang digunakan dalam pembangunan flyover tersebut. Padahal, sebelumnya telah mencuat dugaan kuat adanya penggunaan material dari aktivitas penambangan ilegal dalam proyek Tol Tempino–Jambi Seksi 4.
Ketiadaan penjelasan mengenai asal-usul material ini justru memperkuat kecurigaan publik terhadap transparansi dalam rantai pasok proyek.
Apalagi, sejumlah dokumen dan temuan lapangan menunjukkan adanya aktivitas penambangan tanpa izin yang diduga menjadi pemasok material bagi proyek tersebut.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar:
apakah kerusakan yang terjadi murni akibat faktor alam, atau justru berkaitan dengan kualitas material yang digunakan?
Di sisi lain, fakta bahwa flyover tersebut masih berada dalam masa pemeliharaan menegaskan bahwa tanggung jawab atas kondisi konstruksi sepenuhnya masih berada di pihak kontraktor.
Publik kini menunggu langkah konkret dari pihak terkait, tidak hanya dalam bentuk perbaikan fisik, tetapi juga transparansi menyeluruh terkait sumber material dan standar kualitas yang digunakan dalam proyek.
Jika persoalan ini tidak diungkap secara terbuka, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi satu flyover—melainkan kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan proyek infrastruktur negara.[RED]























Discussion about this post