JAKARTA, Bersama rajat.id – Gelombang kritik keras kembali menerpa kebijakan pengelolaan anggaran negara. Langkah Presiden Prabowo Subianto yang menyalurkan 1.098 ekor sapi kurban untuk Hari Raya Idul adha tahun ini memicu polemik hebat. Pasalnya, ibadah yang sejatinya bersifat personal tersebut justru dibiayai penuh oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan angka yang sangat fantastis: Rp100 miliar!
Kepastian mengenai sumber dana ini dikonfirmasi langsung oleh Wakil Menteri Sekretaris Negara. Ia menyatakan bahwa seluruh biaya pengadaan ribuan sapi kurban kepresidenan tersebut sepenuhnya bersumber dari kas negara.
Kemurahan Hati di Atas Beban Pajak Rakyat?
Langkah pemerintah ini dinilai publik sebagai bentuk pemborosan anggaran di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sedang menjerit. Menyalurkan hewan kurban ke berbagai pelosok daerah memang terdengar mulia, namun ketika “kebaikan” itu dipaksakan menggunakan uang pajak rakyat, nilai esensinya patut dipertanyakan.
Jika dikalkulasikan secara kasar, anggaran Rp100 miliar untuk 1.098 ekor sapi berarti rata-rata harga per ekor sapi mencapai hampir Rp91 juta. Angka yang sangat jauh di atas harga pasaran sapi kurban standar masyarakat sipil.
Catatan Kritis Redaksi: > Konsep kurban dalam Islam adalah mengorbankan harta pribadi sebagai bentuk ketakwaan, bukan menguras fasilitas negara demi sebuah seremonial politik berkedok ibadah.
Rakyat Menjerit, Anggaran Kurban Meroket
Banyak pihak menilai dana jumbo Rp100 miliar tersebut jauh lebih mendesak jika dialokasikan untuk sektor-sektor yang langsung menyentuh perut rakyat miskin, seperti:
- Subsidi pangan yang terus melambung.
- Stabilisasi harga kebutuhan pokok menjelang hari raya.
- Bantuan langsung bagi jutaan masyarakat yang kehilangan daya beli.
Kebijakan ini memperlihatkan betapa tidak pekanya jajaran elite pemerintahan terhadap realitas sosial di akar rumput. Di saat rakyat dipaksa hemat dan dihadapkan pada berbagai kenaikan tarif serta pajak, pemerintah justru dengan mudahnya menggelontorkan ratusan miliar rupiah demi pencitraan Iduladha yang dibungkus APBN.
Pemerintah harus diingatkan bahwa APBN adalah amanah uang rakyat, bukan dompet pribadi penguasa yang bisa digunakakan tanpa kalkulasi urgensi yang jelas. Rakyat tidak butuh tontonan bagi-bagi sapi kurban yang dibeli dari uang mereka sendiri, rakyat butuh kebijakan yang berpihak pada isi piring mereka sehari-hari! ( Tim/Red )























Discussion about this post