JAKARTA, BERSAMA RAJAT.ID – Di tengah arus intimidasi dan upaya pembungkaman terhadap suara-suara kritis, Dewan Pengurus Nasional Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) kembali memecah keheningan dengan pernyataan yang menghentak publik. Melalui rilis resmi yang merujuk pada dokumen infografis IMG-20260602-WA0016.jpg, Ketua Umum PPWI Nasional, Wilson Lalengke, S.Pd., M.Sc., MA, membongkar habis filosofi mendalam dan radikal di balik logo organisasi yang selama ini menjadi simbol perlawanan kaum tertindas.
Pesan ideologis yang disebarkan bertepatan dengan momentum refleksi organisasi ini menyoroti makna tersembunyi dari siluet figur manusia dalam logo PPWI. Di sana, tampak jelas satu sosok unik yang digambarkan sedang lantang bersuara dengan balon dialog bersimbol tanda seru, berdiri tegak di depan figur lainnya. Wilson Lalengke, yang juga merupakan tokoh intelektual Alumni Lemhannas RI Tahun 2012, menegaskan bahwa simbol tersebut bukanlah pajangan estetis tanpa arti, melainkan sebuah doktrin perjuangan yang mutlak dan tidak boleh ditawar oleh siapa pun.
“Tahukah Anda makna siluet orang-orangan di logo PPWI ini? Satu sosok yang unik sedang berkata-kata. Maknanya adalah ‘hendaklah Anda terus bersuara lantang walau hanya seorang diri, terus berjuang tanpa henti walau tiada teman seorangpun, tetaplah di jalan kebenaran walau sendirian dan dicibir orang banyak’,” tegas Wilson Lalengke dalam rilis resmi yang beredar pada Rabu, 11 September 2024.
Pernyataan keras ini dinilai sebagai tamparan telak sekaligus tekanan terbuka bagi para oknum penguasa, korporasi hitam, maupun pihak-pihak yang kerap menggunakan kekuasaan untuk membungkam jurnalis warga dan elemen masyarakat. PPWI mengirimkan sinyal perang urat syaraf yang tegas: kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah gerombolan atau besarnya modal, melainkan oleh integritas individu yang menolak tunduk pada kezaliman.
Seruan dari pucuk pimpinan PPWI ini sekaligus menjadi motor penggerak dan instruksi langsung bagi seluruh pewarta warga di pelosok negeri agar tidak gentar menghadapi pengucilan sosial, kriminalisasi, ataupun cibiran publik. Bersama Rakyat, PPWI menegaskan posisinya sebagai benteng terakhir transparansi: jika kebenaran harus disuarakan dalam kesendirian, maka kesendirian itu adalah sebuah kehormatan tertinggi, bukan kelemahan yang bisa diinjak-injak. Pihak-pihak yang mencoba bermain-main dengan kemerdekaan berpendapat kini harus berpikir dua kali sebelum berhadapan dengan barisan pewarta yang siap bergerak tanpa pamrih demi keadilan. ( Tim/Red )























Discussion about this post