JAMBI, 17 April 2026 – PTPN IV Regional 4 (PalmCo) kini berada di bawah sorotan tajam. Di tengah gegap gempita publikasi prestasi mengenai lonjakan produksi kebun yang fantastis di media sosial, terselip sebuah tabir gelap di Kebun Bukit Kausar, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar).
Penelusuran tim investigasi mengungkap adanya kontras yang menyakitkan: manajemen begitu perkasa mengejar angka produksi, namun seolah “amnesia” dalam menunaikan kewajiban pelepasan lahan dan hak masyarakat lingkungan yang telah berlarut selama puluhan tahun.
Ambisi Angka vs Tragedi Kemanusiaan
Data internal menunjukkan grafik target dan realisasi produksi yang sangat agresif. Fokus utama pimpinan wilayah beserta jajaran manajemen tampak terkunci pada pencapaian tonase. Namun, di balik angka-angka “istimewa” tersebut, warga lingkungan Bukit Kausar justru merasa dianaktirikan.
Muncul dugaan kuat bahwa hak-hak masyarakat sengaja “disenyapkan” demi menjaga performa laporan keuangan perusahaan agar tetap terlihat hijau di mata pusat kekuasaan dan badan investasi baru, Danantara.

Bola Panas di Meja Manajemen: Konfirmasi Resmi Telah Dilayangkan
Demi menjaga kaidah jurnalistik check and re-check, tim investigasi fikiranrajat.id telah melayangkan surat konfirmasi resmi kepada pihak manajemen PTPN IV Regional 4. Berdasarkan bukti pengiriman (Resi J&T) yang diterima redaksi hari ini, bola panas kini resmi berada di meja pimpinan wilayah.
Langkah ini diambil untuk memberikan ruang bagi manajemen agar bersikap transparan terkait status penguasaan lahan di Bukit Kausar. Publik kini menanti: apakah manajemen akan menjawab dengan data yang jujur, atau justru kembali berlindung di balik narasi pencitraan digital?
Malaikat di Layar, ‘Zombi’ di Lapangan?
Sangat ironis melihat pimpinan perusahaan tampil dengan narasi “Mengetuk Pintu Langit“ dan kesalehan sosial di media sosial, sementara warga yang hidup di pagar kebun masih merasa terpinggirkan. Tudingan pedas pun muncul: apakah gaya kepemimpinan yang ditampilkan hanyalah topeng pencitraan?
Masyarakat mempertanyakan nilai Hablum Minannas manajemen jika kemakmuran korporasi justru berdiri di atas pengabaian hak saudara sebangsa sendiri yang kewajibannya tidak dipenuhi selama puluhan tahun.
Menanti Nyali Danantara dan Jakarta
Dengan masuknya aset strategic ini ke dalam radar Danantara, publik menuntut audit menyeluruh. Kejayaan BUMN tidak boleh dibangun di atas pengabaian hak konstitusional rakyat. Redaksi akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas pada episode-episode berikutnya.
(Tim Investigasi/Red)























Discussion about this post