Jambi – Polemik pengadaan laptop untuk Tes Kompetensi Akademik (TKA) di SMAN 10 Kota Jambi kian menyeruak. Sumber fikiranrajat.id mengungkap, siswa bahkan orang tua berharap skandal ini segera menemukan titik terang.
Sekolah yang mengelola dana BOS lebih dari Rp1,2 miliar/per tahun justru dinilai gagal memperhatikan prasarana. Lapangan olahraga rusak, perpustakaan seadanya, hingga minimnya fasilitas futsal dan kegiatan ekstrakurikuler membuat siswa harus merogoh kocek sendiri hanya untuk berlatih. “Ironis, ketika ada siswa berprestasi, nama baik sekolah dipakai kepala sekolah, tapi usaha dan biaya ditanggung murid,” keluh salah satu wali murid.
Sumber juga menyorot lemahnya empati kepala sekolah. Di satu sisi, dana BOS cair melalui Dapodik, namun output nyata yang dirasakan siswa tidak signifikan. “Ke mana larinya dana BOS itu?” tanya orang tua dengan nada kecewa.
Kepala SMAN 10, Nova Deswita, yang enam tahun menjabat, kerap memberikan jawaban berbelit terkait penggunaan dana. Mulai dari alasan “sistem sering menolak pencairan” hingga menyebut “sedang diperiksa BPK”, lalu mengoreksi hanya sebatas inspektorat. Inkonsistensi ini menimbulkan keraguan publik atas transparansi sekolah.
Orang tua siswa kini meminta BPK RI Perwakilan Jambi turun langsung melakukan audit. Mereka mengaku tidak percaya apabila hanya audit internal yang dilakukan. “Kami khawatir kalau hanya audit internal, masalah ini akan ditutup-tutupi,” ujar salah satu wali siswa.
Catatan Kritis
SMAN 10 Kota Jambi bukan hanya menghadapi krisis sarana prasarana, tetapi juga krisis kepercayaan. Intimidasi terhadap siswa, pengelolaan dana BOS yang tidak transparan, hingga minimnya perhatian pada prestasi olahraga dan akademik adalah cermin lemahnya manajemen pendidikan. Publik berhak tahu ke mana uang negara mengalir. Audit independen menjadi keharusan agar pendidikan benar-benar berpihak pada siswa, bukan hanya keuntungan segelintir pihak.
fikiranrajat.id
Pewarta: tholib
























Discussion about this post