SAROLANGUN SINGKUT – Potret miris kembali terlihat di ruas jalan Sungai Benteng menuju arah Cianjur, Kecamatan Singkut. Di tengah kerusakan jalan yang tak kunjung diperbaiki, sekelompok warga justru turun langsung melakukan penimbunan lubang menggunakan tanah seadanya.
Aksi tersebut terekam pada Senin (23/3/2026). Beberapa warga terlihat menutup lubang-lubang jalan, sementara di saat bersamaan mereka menadahkan kotak untuk meminta sumbangan dari pengguna jalan yang melintas.
Fenomena ini memunculkan dua sisi yang kontras: semangat gotong royong di satu sisi, namun di sisi lain menunjukkan absennya peran pemerintah dalam menangani infrastruktur dasar.
Jalan Rusak, Rakyat yang Menambal
Dari rekaman visual, kondisi jalan tampak berlubang, bergelombang, dan membahayakan pengguna. Tidak sedikit pengendara yang harus memperlambat laju atau menghindari titik-titik kerusakan.
Alih-alih mendapat perbaikan resmi, warga justru berinisiatif sendiri.
Namun metode yang dilakukan—menimbun dengan tanah—dinilai hanya bersifat sementara dan berpotensi kembali rusak dalam waktu singkat, terutama saat hujan turun.
Kotak Sumbangan di Jalan: Solusi atau Potret Kegagalan?
Yang menjadi sorotan publik adalah praktik pengumpulan sumbangan di lokasi tersebut.
Pengguna jalan yang melintas diminta memberikan uang secara sukarela. Meski tidak ada unsur paksaan yang terlihat jelas, kondisi ini menimbulkan pertanyaan:
▪️Apakah praktik ini dibenarkan?
▪️Siapa yang bertanggung jawab atas pengelolaan dana tersebut?
▪️Mengapa masyarakat harus “membayar” untuk jalan umum?
Di satu sisi, warga dianggap berinisiatif membantu. Namun di sisi lain, kondisi ini mencerminkan beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara justru dialihkan ke masyarakat.
Aparat dan Pemerintah Diminta Turun Tangan
Kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan. Selain berpotensi menimbulkan kecelakaan, praktik pengumpulan uang di jalan juga rawan menimbulkan polemik.
Pemerintah Kabupaten Sarolangun dan instansi terkait didesak untuk segera:
▪️Melakukan perbaikan permanen jalan
▪️Menertibkan aktivitas di badan jalan
▪️Menelusuri sumber kerusakan, termasuk dugaan kendaraan over tonase
Dari Jalan Rusak ke Krisis Kepercayaan
Peristiwa ini bukan sekadar soal jalan berlubang. Ini adalah potret lebih besar tentang bagaimana masyarakat dipaksa beradaptasi dengan keterbatasan pelayanan publik.
Ketika jalan rusak dibiarkan, lalu warga turun tangan dan bahkan meminta sumbangan di jalan, maka yang dipertanyakan bukan lagi kondisi aspal—melainkan kehadiran negara itu sendiri.



























Discussion about this post