SAROLANGUN — Tanah yang digali untuk mencari emas, kini justru menggali liang kubur bagi warga sendiri.
Dalam waktu hanya dua bulan, aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Sarolangun telah merenggut 12 nyawa manusia. Mereka bukan angka statistik. Mereka adalah ayah, anak, saudara, dan tulang punggung keluarga yang tak pernah kembali pulang.
Ketua DPD Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Provinsi Jambi, Abdul Mutalib, SH, menyampaikan pesan moral mendalam kepada seluruh kepala desa di wilayah rawan PETI, khususnya Desa Muaro Cuban.
Menurutnya, tragedi demi tragedi yang terjadi seharusnya menjadi peringatan keras bagi semua pemimpin desa.
Duka yang Belum Selesai
Pada 26 Januari 2026, longsor maut di Dusun Mengkadai, Desa Temenggung, Kecamatan Limun, merenggut:
💔 8 warga meninggal dunia
💔 4 lainnya luka berat
Tangis keluarga bahkan belum benar-benar reda.
Namun pada 15 Februari 2026, bumi Sarolangun kembali berduka. Longsor di lokasi PETI KM 18 Desa Teluk Kecimbung Sungai Batu Putih Selembau, Kecamatan Bathin VIII kembali menelan:
💔 4 korban jiwa
Total 12 nyawa hilang dalam 60 hari.
Tidak ada emas yang mampu mengganti kehilangan itu.
Pesan Moral untuk Pemimpin Desa
Abdul Mutalib menegaskan, jabatan kepala desa bukan sekadar administrasi pemerintahan, tetapi amanah untuk menjaga keselamatan warga.
“Setiap lubang tambang ilegal bukan hanya ancaman lingkungan, tapi potensi kuburan bagi masyarakat. Jangan tunggu korban berikutnya baru bertindak,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa sikap tegas pemimpin desa dapat menjadi garis pembatas antara keselamatan dan tragedi.
Diamnya pemimpin, menurutnya, sering kali dibaca masyarakat sebagai pembiaran.
Ketika Ekonomi Bertemu Risiko Nyawa
Banyak warga turun ke lokasi PETI karena desakan ekonomi. Namun realitas di lapangan menunjukkan risiko yang jauh lebih besar: tanah longsor, lubang tambang runtuh, dan keselamatan tanpa perlindungan.
Setiap kali alat berat bekerja di lereng tanah yang rapuh, sesungguhnya taruhan yang dipasang bukan hanya emas — tetapi nyawa manusia.
Dan yang paling menyayat, korban sering berasal dari masyarakat desa sendiri.
Sarolangun Tidak Boleh Terbiasa dengan Duka
PPWI Jambi berharap tragedi yang telah terjadi menjadi pelajaran bersama bagi seluruh pemerintah desa agar mengambil langkah preventif sebelum korban kembali bertambah.
Muaro Cuban yang dikenal memiliki potensi desa wisata diharapkan tetap menjadi ruang harapan, bukan berubah menjadi wilayah rawan kematian akibat tambang ilegal.
“Perdebatan bisa selesai. Konflik bisa reda. Tapi nyawa yang hilang tidak pernah bisa kembali,” tegas Abdul Mutalib.
Hari ini Sarolangun berduka.
Pertanyaannya tinggal satu:
Apakah kita akan menunggu korban ke-13?
(Redaksi FikiranRajat.id)
Media Pengawas Kepentingan Publik























Discussion about this post