SAROLANGUN, BersamaRajat.id – Kenyamanan dan hak hidup sehat warga Desa Pelawan Jaya, Kecamatan Pelawan, Kabupaten Sarolangun, Jambi, kembali dirampas secara paksa. Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik PT Samudera Mahkota Mas (SMM), yang sebelumnya sempat dihentikan operasionalnya akibat gelombang penolakan masif dari masyarakat, secara sepihak dan diam-diam kembali beraktivitas. Keputusan ini sontak memicu amarah dan kepanikan warga yang merasa dikhianati demi kepentingan korporasi.
Semenjak diresmikan oleh Bupati Sarolangun, H. Hurmin, aroma busuk dan menyengat dari aktivitas pabrik bukannya membaik, justru kian menjadi-jadi. Bau tak sedap tersebut kini menjadi “makanan sehari-hari” yang tidak hanya menyiksa warga pemukiman sekitar pabrik, tetapi juga menyengat hidung para pengguna jalan lintas yang melintas di kawasan tersebut. Tak berhenti pada polusi udara, dugaan pencemaran air akibat limbah pabrik yang mulai merembes dan mencemari aliran air di Pelawan kian memperparah situasi dan menciptakan status Darurat Aroma Tak Sedap dan Krisis Lingkungan.
Hak Sehat Dirampas, Warga Menolak “Dijajah” Korporasi
Pantauan tim investigasi di lapangan mengonfirmasi bahwa bau busuk yang dikeluarkan oleh PKS PT SMM benar-benar berada di ambang batas toleransi manusia. Spanduk-spanduk perlawanan dan protes dari warga kini terbentang jelas di berbagai akses gang masuk pemukiman, menjadi simbol nyata bahwa masyarakat tidak akan pernah mundur untuk mempertahankan ruang hidup mereka.
Ironisnya, di tengah penderitaan rakyat, diduga ada upaya-upaya bawah meja untuk meredam gejolak ini. Beberapa warga lokal mengaku sempat didatangi oknum tertentu dan diiming-imingi sejumlah uang serta fasilitas pembuatan sumur bor agar mereka bungkam dan menyetujui operasional pabrik. Namun, iman dan kesehatan warga tidak bisa dibeli.
“Ada iming-imingi uang dan sumur bor dari oknum, tapi kami tegas menolak! Kami ingin hidup sehat tanpa harus menghirup bau busuk ini setiap hari. Tolong pemerintah, jangan biarkan kami dijajah di kampung kami sendiri! Anak-anak kami butuh udara bersih,” ungkap Neneng, salah satu warga Desa Pelawan Jaya dengan nada geram dan kecewa.
Sambil meneteskan air mata menahan sesak, seorang ibu paruh baya bernama Lara juga mempertanyakan tumpulnya taji pemerintah daerah dalam melindungi rakyatnya sendiri. “Bau dari pabrik sawit itu makin hari makin menyengat. Kami bingung kenapa pemerintah tidak mengambil tindakan tegas. Ke mana kami harus mengadu kalau bukan ke pemerintah?” ratapnya.
Tuntutan Harga Mati: Tutup Permanen atau Relokasi!
Kembalinya operasional PT SMM tanpa adanya penyelesaian konkret terkait pengelolaan limbah dan amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dinilai sebagai bentuk arogansi perusahaan yang menantang hukum dan mengabaikan nilai kemanusiaan. Gelombang protes masyarakat kini telah mencapai titik kulminasi tertinggi. Warga dengan tegas menyatakan bahwa negosiasi atas nama kompensasi recehan sudah tertutup.
Tuntutan masyarakat Pelawan Jaya kini menjadi harga mati dan titik tanpa kompromi: TUTUP OPERASIONAL PT SMM SECARA PERMANEN atau RELOKASI PABRIK jauh dari pemukiman warga!
Mendesak Ketegasan Bupati Hurmin dan Aparat Terkait
Peresmian PT SMM oleh Bupati Sarolangun H. Hurmin beberapa waktu lalu, yang awalnya digadang-gadang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dengan catatan wajib menaati aturan, kini justru berbalik menjadi bumerang yang mencekik leher rakyat kecil. Pertumbuhan ekonomi macam apa yang harus dibayar dengan paru-paru anak cucu warga Pelawan?
BersamaRajat.id Menegaskan: Pemerintah Kabupaten Sarolangun, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta aparat penegak hukum tidak boleh menutup mata, memalingkan muka, atau bahkan bersembunyi di balik regulasi yang administratif formalitas belaka. PT SMM nyata-nyata telah gagal mengendalikan polusi udara dan diduga kuat mencemari ekosistem air.
Jika Bupati Hurmin berkomitmen pada janjinya agar perusahaan “taat aturan,” maka detik ini juga, operasional PT SMM harus segera disegel dan dievaluasi total secara transparan di hadapan publik. Membiarkan perusahaan ini terus mengepulkan asap dan bau busuknya sama saja dengan melegitimasi kesengsaraan rakyat demi keuntungan segelintir pengusaha.
Rakyat Pelawan Jaya menanti bukti nyata, bukan sekadar janji manis di atas kertas peresmian. Tutup atau Relokasi, Titik! (Tim Redaksi)























Discussion about this post