Tindakan oknum pejabat ini dinilai sebagai bentuk arogansi yang tak termaafkan. Sebagai pejabat yang memimpin proyek-proyek strategis permukiman di Jambi, Yusrizal justru menunjukkan sikap yang bertolak belakang dengan etika kepemimpinan dengan merendahkan martabat masyarakat tempat ia bertugas.
Arogansi Pejabat Pusat di Tanah Jambi
Laporan yang diterima redaksi Rajat.id mengungkapkan bahwa Yusrizal diduga melontarkan kata-kata yang sangat diskriminatif dan memandang rendah kapasitas intelektual putra-putri Jambi. Sikap ini memicu kemarahan luas karena dianggap telah menginjak-injak harga diri “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah”.
“Kami tidak butuh pejabat yang datang ke Jambi hanya untuk membawa mentalitas penghina. Jika SDM kami dianggap rendah, silakan angkat kaki dan bawa kembali proyek Anda. Jambi tidak butuh pembangunan yang dibarengi dengan penghinaan maruah!” tegas salah satu perwakilan elemen masyarakat kepada Rajat.id.
Desakan Mundur atau Diusir!
Tekanan publik kini mengalir deras menuntut pertanggungjawaban nyata. Masyarakat tidak hanya meminta permohonan maaf, tetapi menuntut langkah konkret:
- Permohonan Maaf Terbuka: Yusrizal wajib meminta maaf secara publik kepada seluruh rakyat Jambi atas lisan yang tidak terjaga.
- Pencopotan Jabatan: Mendesak Menteri PU dan Dirjen Cipta Karya untuk segera mencopot Yusrizal dari posisinya karena dianggap telah gagal menjaga integritas sosial di wilayah tugasnya.
Hengkang dari Jambi: Rakyat Jambi menegaskan tidak ada tempat bagi pejabat rasis untuk tetap bercokol di bumi Melayu Jambi.
Sikap rasis adalah penyakit birokrasi yang harus diamputasi. Jika seorang Kasatker Cipta Karya sudah tidak memiliki rasa hormat terhadap SDM lokal, maka ia telah kehilangan legitimasi moral untuk memimpin pembangunan di wilayah tersebut.
Kami akan terus mengawal kasus ini hingga ada tindakan tegas dari pusat. Jangan biarkan arogansi pejabat menghancurkan harmoni di Provinsi Jambi.
MINTA MAAF, MUNDUR, ATAU RAKYAT YANG AKAN MEMAKSA ANDA PERGI!
Oleh: Redaksi Rajat.id Tajam • Tegas • Berani
Sumber : Reportase Nusantara


















Discussion about this post